welcome

Marquee Text Generator - http://www.marqueetextlive.com

Jumat, 10 Agustus 2012

Kunci-kunci Rezeki Menurut Al-Qur’an dan As-sunnah

Resensi Buku

Judul buku : Mafaatihul Rizq fi Daw’ Al-Kitab wa Al-Sunnah
Pengarang : DR. Fadl-ul-Ilahi.
Tebal : 104 Halaman
Ukuran : 12 X 17 Cm
Penerbit : Darul Al-Jarisi, Jeddah.
Cetakan : IIV (1998)

“Berpegang teguh dengan ajaran Islam di era globalisasi seperti sekarang ini akan menyulitkan rezeki. Kalau ingin hidup dengan senang dan memperolehi harta yang banyak, harus memejamkan mata dari aturan-aturan agama karena agama selalu menghalang dalam masalah mencari rezeki dengan mengharamkan ini dan mengharamkan itu lah. Pokoknya agama menyulitkan rezeki dan menghalang kemajuan”.

Keluhan atau ungkapan semacam ini sering kita dengar dari mulut orang awam yang tidak paham hakikat agama ini. Mereka menggangap agama adalah cuma melaksanakan praktek-praktek ritual saja seperti solat, zakat, haji, nikah dan urusan yang bersangkut paut dengan mati. pemahaman seperti ini sudah lama berkembang dalam masyarakat kita sampai hari ini.

Islam adalah agama yang menyeimbangkan perhatian antara kebutuhan duniawi dan kebutuhan ukhrawi, dengan menjadikan dunia ini sebagai ladang atau ruang aktifitas untuk mendapatkan bekal akhirat. Tidak ada pemisahan antara urusan dunia dan urusan akhirat. Semua yang telah dikerjakan manusia di dunia ini akan dipertangungjawabkan di akhirat nanti, dan semua yang dibutuhkan diakhirat nanti hanya bisa dipersiapkan didunia ini. Dua keterikataan ini menuntut proporsi keseimbangan perhatian yang mensejahterakan keduanya. Tidak akan pernah dicapai sa’adah (kebahagiaan) duniawi tanpa memperhatikan demensi ukhrawi, sebagaimana tidak akan pernah ada sa’adah ukhrawi jika tidak dipersiapkan sejak dialam dunia ini.

Begitulah pengarang buku ini memulai pembahasanya dengan menceritakan keadaan masyarakat umat islam hari ini yang selalu risau terhadap kekurang dan kesusahan dalam mencari rezeki. Dalam buku ini pengarang mencoba mengetangahkan kepada kita semua sumber-sumber rezeki yang telah dilupakan oleh masyarakat hari ini.

Pengarang membagikan buku ini kepada sepuluh mathlab (tuntutan) agama yang apabila kita kerjakan Insya Allah ianya akan membuka pintu-pintu rezeki kita dengan yang tidak disangka-sangka.

Sebelum memulai pembahasan ditiap-tiap tuntutan, terlebih dahulu pengarang menerangkan hakikat dari tuntutan tersebut dan setelah itu beliau mengetengahkan dalil-dalil dari Qur’an dan sunnah serta pendapat para ulama’ tentang tuntutan yang terkait menjadi sebab dibukanya pintu rezeki oleh Allah SWT.

Sebagai contoh kita lihat di tuntutan yang pertama yaitu Istighfar dan taubah. Banyak orang mengangap bahwa istighfar dan taubah hanya dengan ucapan “Ashtaghfurullahal Azdhim wa atubu ilaihi” ucapan ini sama sekali tidak akan memberi bekas kepada pelakunya kalau tidak disertai dengan syarat-syarat taubah yang telah digariskan oleh agama dan ianya termasuk dari perbuatan orang yang pendusta terhadap agama.

Seperti yang dikatakan oleh imam Nawawi, taubah mempunyai tiga syarat pokok. Pertama: meninggalkan maksiat yang telah dilakukan. Kedua: hendaklah menyesal atas dosa yang telah dilakukan. Ketiga: bercita-cita untuk tidak mengulanginya kesalah yang sama di masa akan datang. Kurang salah satu dari tiga syarat tersebut maka taubat seseorang tidak akan diterima oleh Allah. (hal: 11-12).

Selanjutnya pengarang mengetengahkan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan sunnah yang menjelaskan hakikat istighfar dan taubah yang menjadi sebab dibukanya pintu-pintu rezeki. Seperti firman Allah SWT dalam surah Nuh ayat 10-12, surah Hud ayat 3 dan 52. Dalil dari sunnah seperti hadis yang diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas RA “Barang siapa memperbanyak Istighfar maka Allah akan menjadikan setiap kesulitan jalan keluar dan setiap kesempitan akan mengantikan dengan keluasan, serta memberikan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangkakan” (HR Imam Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, Nisa’i, dan Hakim).

Kalau kita lihat dari segi keilmiahan, buku ini memenuhi standar penulisan ilmiah dan hal ini terlihat jelas dari semua hadits-hadits yang dikutip oleh pengarang berasal dari sumber aslinya serta mentakhrijkanya (kembali kepada sumber asal) dari semua kitab-kitab hadits yang ada. Beliau juga mengutip Qaulul ulama’ (pendapat para ulama’) serta mengulasnya dengan cara yang sangat sistematis dan dengan gaya bahasa yang mudah untuk dipahami oleh semua orang.

Dan yang perlu di pahami adalah rezeki dan kerja merupakan dua hal yang berbeda. Menggantungkan rezeki semata-mata pada pekerjaan yang kita lakukan adalah kesalahan, sebagai mana Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi telah memperingatkan dalam bukunya “Rezeki” (Gema Insani Press, 1995) Allah maha luas rezeki-Nya. Mengantungkan rezeki semata-mata pada pekerjaan yang kita lakukan sama dengan mempersempit pintu rezeki, padahal Allah membukanya lebar-lebar untuk kita. Akan tetapi mengharapkan rezeki dari Allah tanpa mau memeras keringat dengan kerja yang meletihkan, sama halnya dengan mengangap sepi nasihat Nabi Saw. “sesungguhnya, bekerja mencari rezeki yang halal itu merupakan kewajiban setelah ibadah-ibadah fardu” (HR At-tabrabi dan Baihaqi). Barang kali, hadits diataslah yang menginspirasi rakyat Pakistan sehingga mencantumkan makna hadits ini disetiap uang kertas mereka “Husule rizq halal ibadat hay”.
Kesulitan demi kesulitan yang dihadapi oleh masyarakat dalam masalah mencari rezeki menjadikan mereka mengkambinghitamkan agama dan hal ini sangat berbahaya sekali karena pada akhirnya nanti masyarakat akan anti pada agama.

Pemahaman ini harus disampaikan kepada masyarakat luas. Tanpa itu maka jangan heran kalau orang Islam sendiri akan anti kepada Islam karena gara-gara mereka berangapan “aturan agama menyulitkan untuk memperoleh rezeki”. Para da’i harus andil dalam hal ini, karena dakwah adalah pekerjaan mempengaruhi, sementara dalam “kacamata” masyarakat orang kaya lebih mudah berpengaruh jika dibandingkan dengan orang miskin. Maka sebagai seorang calon da’i kita harus pandai untuk mencari jalan dan solusi dalam memudahkan mereka dalam mencari rezeki. Setelah kita memenuhi kebutuhan mereka barulah mereka akan mendengar nasehat-nasehat agama yang kita sampaikan.
Praktik-praktik semacam ini adalah cara-cara yang paling berhasil yang pernah dilakukan oleh para misionaris Kristen dalam memurtadkan umat islam ditanah air. @Wallahu ‘alam bishowab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar