welcome

Marquee Text Generator - http://www.marqueetextlive.com

Senin, 29 April 2013

Bagaimana Sabar itu..??

Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu'min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya." (HR. Muslim)
Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Sering kita mendengar kalimat ataupun nasehat-nasehat agar kita bersabar, tapi apakah sebenarnya sabar itu..?? Alhamdulillah pada kesempatan kali ini saya masih diberi kesempatan untuk memposting tentang makna sabar dalam arti sebenarnya, semoga postingan kali ini bisa menjadi nasehat bagi semua pembaca dan khususnya buat saya sendiri…
 
Sabar adalah kekuatan jiwa yang harus dimiliki setiap muslim, tanpa sifat sabar seseorang tidak akan mampu menghadapi berbagai godaan setan dan bisikan hawa nafsu serta tidak akan mampu menghadapi berbagai cobaan dan rintangan, sabar juga merupakan cahaya yang menerangi jalannya umat muslim dari kebimbangan terhadap berbagai kendala.

Jadi inti makna sabar dalam Islam adalah teguhnya seseorang di jalur haq dengan tidak terpengaruh dengan situasi dan kondisi apapun, akalnya tidak larut pada ajakan hawa nafsunya, jiwanya menolak untuk putus asa, lidahnya tidak mengeluh hanya kepada Allah, sedangkan anggauta badannya ditahan untuk melakukan setiap pekerjaan yang dibenci Allah, hatinya tidak merasa gelisah tetapi selalu berada dalam keimanan, sedangkan lawan sabar adalah gelisah, tergesa-gesa, sempit dada, takut, putus asa, lemah dan mudah menyerah.
 
 
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar" (QS. Ali Imran: 146)

Jadi Sabar adalah suatu kekuatan yang menolong manusia untuk tetap teguh, yang kadarnya tergantung kadar keimanannya. dan keimanan yang goyah ketika menghadapi bencana, ujian dan berbagai problema adalah keimanan yang palsu, sedangkan iman yang benar tidak mengenal situasi, tetap teguh dan tegar dalam menghadapi berbagai rintangan

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata." (QS. Al Hajj: 11)

Ada yang membagi makna Sabar ada 3 Jenis:
Sabar Melakukan Ketaatan
Banyak diantara kita yang bisa menerima dan terpengaruh jiwanya dengan nasehat-nasehat agama, sehingga seseorang menyadari kesalahannya dan ingin kembali komitmen kepada jalan kebenaran yaitu jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan tetapi apabila dalam dirinya tidak dihiasi dengan sikap sabar maka tidak akan bisa menjalankan komitmen tersebut dengan istiqomah, karena sudah menjadi kodrad manusia selalu tidak menyenangi pada hal-hal yang memberatkan, maka tanpa kesabaran seseorang tidak akan melakukan apa-apa kecuali mengikuti hawa nafsunya

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal, (yaitu) yang bersabar dan bertawakkal kepada Tuhannya. (Al Ankabut: 58-59)


Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
“Barangsiapa berusaha sabar maka Allah akan menjadikannya sabar” (HR Bukhari)

Sabar Menghadapi Kemaksiatan
Maksiat adalah sesuatu yang bisa menjauhkan seseorang dengan Rabbnya, bagi orang mukmin selalu ingin berada dekat dengan Allah, tidak ingin menjauh dari-Nya, merasa malu dan takut apabila melakukan kemaksiatan, karena selalu merasa dilihat dan diawasi oleh Allah, dalam kemaksiatan kita juga perlu kesabaran dalam menghadapi, karena manusia selalu cenderung sabar dengan sesuatu yang menyenangkan dan tidak sabar dengan sesuatu yang tidak menyenangkan, maka rasa Mahabatullah dan takut kepada-Nya lah yang bisa menjadi penolong kita dalam bersabar dalam menghadapi kemaksiatan

Allah Subhanahu wa Ta'ala Berfirman:
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)…” (QS. An-Nahl: 53)


“Jika kamu gembira karena kebaikan dan sedih sedih karena kemaksiatan, maka berarti engkau beriman (HR. Ahmad)
 
Sabar dalam menghadapi cobaan dan Rintangan
Seseorang yang beriman selalu tabah dan tegar menghadapi segala macam cobaan dan  rintangan karena menyadari bahwa setiap cobaan itu mengandung hikmah dibaliknya, selalu khusnudzon kepada Allah, meyakini bahwa setiap cobaan akan ada kebalikan dibaliknya

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun, Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al Baqarah: 155-157)


Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah menjadi orang yang baik, maka Allah akan memberikan cobaan” (HR. Bukhary)

Sabar juga mengandung beberapa aspek penting yaitu:
Sabar dalam hal Phisik yaitu tabah menghadapi beban Sabar dalam hal Nafsu yaitu menahan diri dalam hal-hal yang hina Sabar dalam hal Peperangan yaitu berani dan pantang menyerah Sabar dalam hal Amarah yaitu murah hati dan bijaksana Sabar dalam hal Menghadapi masalah yaitu selalu lapang dada Sabar dalam hal Menyimpan sesuatu yaitu menjaga rahasia Sabar dalam hal Kehidupan yaitu menahan diri dalam keduniaan Sabar dalam hal Rizki yaitu selalu merasa puas / qona’ah Sabar dalam hal Ibadah yaitu berkelanjutan, konsisten atau istiqomah
Dan masih banyak lagi jenis sabar yang lainnya

Alhamdullah..
Semoga kita tergolong menjadi hamba Allah yang selalu sabar menghadapi segala macam aspek kehidupan sebagai wujud penghambaan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala yang di sifati dengan Ash-Shabur atau Maha Sabar, serta menjadikan sabar dan sholat sebagai penolong.... Amin

Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Sabar dalam Suka dan Tabah dalam Duka

Suka dan duka apapun bentuk esensinya sebenarnya sama, dan ekspresi yang ditunjukkan setelah menemuinyapun sama. Permasalahan utamanya adalah bagaimana sikap kita dalam menghadapi suka dan duka yang kita alami.

Hanya saja kita kadang melupakan duka ketika kita sedang diliputi kebahagiaan dan melupakan suka ketika mengalami kesusahan. Padahal bisa saja Allah menimpakan duka dan suka dalam waktu yang bersamaan. Dan biasanya kita mempunyai kecenderungan untuk lebih mendramatisir kedukaan kita sehingga menjadi kengerian yang amat sangat bagi jiwa kita dan kedukaan itu akan selalu ada dalam ingatan kita.

Ketika badai kedukaan itu terjadi, akan tampak kenyataan sejati kita sebagai manusia... merasakan kehampaan, kesunyian, kering kerontang dan tanpa arti.
Karena telah menjadi fitrah kita sebagai manusia, akan menemukan kehampaan diri ketika kita sedang diterjang badai kehidupan, seperti gelapnya masa depan dan kekacauan nasib yang datang silih berganti.
Bahkan bisa jadi tanpa henti seakan tidak memberikan sedikitpun ruang bagi kita untuk menarik nafas dan bersiap-siap untuk bertahan.
Nah... dalam kondisi seperti ini biasanya kita akan terpuruk dan putus asa, namun jika kita orang yang cerdar, barulah kita menyadari hakekat kita sebagai manusia dihadapan kekuatan alam dan kekuatan Allah. Sadar bahwa diri kita hanyalah sebungkah debu ditengah gurun pasir yang kuas. Kita hanyalah manusia biasa dengan kekuatan dan kekuasaan yang amat terbatas.

Ketika musibah terjadi, kadang kita kehilangan akal sehat, bahkan menjadi gila atau ingin mengakhiri hidup. Kita tak sanggup menahan beban hidup yang kita alami. Akal sehat kita tak berfungsi secara normal. Tak jarang kitapun mengutuk Allah dan memprotes perbuatanNya yang kita pandang tak adil.

Memang manusiawi, penderitaan hidup sering melahirkan kehampaan batin dalam diri kita. Sebab biasanya kita belum siap menerimanya. Kebanyakan dari kita akan merasa kuat dan gagah dalam menerima kebahagiaan daripada kesedihan. Oleh karenanya, oleh agama kita di ajarkan untuk mawas diri atau muraqabah dan mengakui keterbatasan kemampuan sebagai sesuatu yang alami yang harus diterima apa adanya. Maka wajar jika kita diperintahkan oleh agama untuk menyerahkan persoalan kita yang tak sanggup kita kuasai kepada Allah. Sebab, di Dunia dan di akhirat, Dia-lah yang menguasai hidup manusia.
Memang benar, bahwa kita dikaruniai kebebasan untuk memilih dan berikhtiar, namun kita tidaklah sepenuhnya menguasai jalan hidup kita sendiri. Jika tidak begini, kita akan mengalami kegoncangan psikologis yang tak terbandingkan ketika diri kita mengalami musibah yang berada di luar jangkauan kemampuan kita.

Setidaknya kita harus mampu menerima penderitaan sebagai sebagian jalan yang harus kita tempuh dari hidup kita sebagai manusia yang secara fitrah tak memiliki daya upaya kecuali sangatlah terbatas.
Kesadaran seperti ini yang mendorong kita untuk bersikap arif, bersujud dihadapan Allah seraya mengakui ke"dhaif"an kita. Sehingga penderitaan tidak dipandang sebagai akhir dari kehidupan ataupun sebagai sebuah bentuk ketidak adilan Allah terhadap diri kita. Dengan sikap seperti ini kita akan mampu bertahan dalam penderitaan dan berupaya dengan segenap kemampuan untuk mencapai kebahagiaan.
Jadi secara garis besar intinya adalah
"Penderitaan kan melahirkan kehampaan batin jika kita memaknainya sebagai azab namun akan melahirkan ketabahan jika kita memaknainya sebagai ujian yg harus kita lewati".

Fenomena Ilmu Sosial Dasar Dalam Kehidupan

Hal pertama saya akan mendefinisikan satu-satu dari apa yang dimaksud dengan Ilmu Sosial Dasar, Sistem Komputer, dan Fenomena dalam Kehidupan. Semuanya itu saling berkaitan, baik kita bukan dari Anak Sistem maupun Ilmu Komputer lainnya, hal itu bisa saja saling berkaitan, karena Ilmu Sosial Dasar mencakup seluruh lapisan masyarakt dan juga lingkungan. Karena Ilmu Sosial Dasar adalah pengetahuan yg menelaah masalah-masalah sosial, khususnya masalah-masalah yang diwujudkan oleh suatu masyarakat, dengan menggunakan Teori-teori (fakta, konsep, teori) yang berasal dari berbagai bidang pengetahuan keahlian dalam lapangan ilmu-ilmu sosial (seperti Geografi Sosial, Sosiologi, Antropologi Sosial, Ilmu Politik, Ilmu Komputer, Ekonomi, Psikologi Sosial dan Sejarah).
Dari definisi diatas kita dapat menyimpulkan bahwa Ilmu Sosial dasar mencakup segala Bidang dalam kehidupan, Maka dari itulah Ilmu Sosial Dasar merupakan suatu usaha yang dapat diharapkan memberikan pengetahuan umum dan pengetahuan dasar tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk melengkapi gejala-gejala sosial agar daya tanggap (tanggap nilai), persepsi dan penalaran mahasiswa dalam menghadapi lingkungan sosial dapat ditingkatkan , sehingga kepekaan mahasiswa pada lingkungan sosialnya menjadi lebih besar.
Apa itu Sistem Komputer?
Sebagian masyarakat mungkin sudah mengenal Sistem Komputer, karena dari kata “Komputer” sendiri sudah mengandung makna bahwa itu berkaitan dengan Komputer itu sendiri. Tapi untuk orang di daerah-daerah tertinggal seperti contoh di Irian Jaya, yang sebagian besar masyarakatnya masih menggunakan koteka mungkin belum mengerti apa itu Sistem Komputer, Sistem Komputer itu sendiri memiliki arti kata, yaitu dari kata “Sistem” dan kata “Komputer” . Sistem adalah suatu tatanan yang saling terhubung dan memiliki lintasan dalam komponen-komponen yang ada. Dan untuk istilah Komputer sendiri adalah perangkat keras dan perangkat lunak yang saling terhubung dengan bantuan brainware (Pengguna).
Dalam kaitannya dengan Ilmu Sosial Dasar, perkembangan perangkat keras di dunia teknologi informasi juga berkembang sangat pesat. Komputer (prosesor computer) telah digunakan diberbagai bidang seperti mesin-mesin industry, alat-alat rumah tangga, bidang keamanan, otomotif, mainan elektronik (games), dan sebagainya. Lalu apa yang mendasari semua itu? Semuanya saling berkaitan dengan Ilmu Sosial, tetapi dalam kaitannya dengan Komputer tentu ada hal yang menguntungkan dan ada pula yang dirugikan dalam sebuah sosialisainya, banyak jejaring sosial yang telah dikembangkan oleh para ahli computer. Seperti Facebook, Twitter, Skypie dan masih banyak lainnya. Tetapi semua itu belum bisa menjadikan manusia saling bersosialisasi. Karena semua itu hanya saling terhubung dalam dunia maya.
Apa kaitannya antara Ilmu Sosial Dasar dan Sistem Komputer dalam fenomena kehidupan?
Dalam fenomena kehidupan sekarang memang yang namanya manusia tidak lepas dari apa itu Teknologi, semua teknologi itu tentunya diciptakan oleh seseorang yang ahli dibidang teknologi, semua itu diciptakan tentunya untuk membantu manusia dalam kehiduan sehari-hari. Dalam kesehariannya manusia tidak lepas dari komunikasi antar sesamanya. Namun bagaimana untuk jarak yang jauh seseorang dapat saling berkomunikasi, maka diciptakanlah Telefon, Komputer, dan masih banyak contoh lain, Komputer sendiri memiliki banyak kegunaan baik untuk pengerjaan tugas-tugas kantor, computer sendiri dapat digunakan untuk sarana komunikasi jarak jauh. Dalam Sistem Komputer mahasiswa diajarkan mengenai jaringan, program-program logika dan elektro (berkaitan dengan perangkat keras) tentunya disini mahasiswa diharapkan dapat menciptakan alat yang lebih inovasi dan dapat digunakan oleh banyak orang. Terciptanya Sistem Komputer juga memiliki tujuan, yaitu :
Menguasai dasar ilmu dan teknologi pengolahan informasi yang berbasi komputer dan mampu menganalisis, merancang, membangun, dan menciptakan perangkat keras dan devais berbasiskan komputer (sistem tertanam/sistem embeded).
Tentunya ini saling berhubungan apa itu Ilmu Sosial, Sistem Komputer dalam suatu fenomena kehidupan adalah untuk menjadikan manusia yang terampil dan Inovasi tentunya.

Jumat, 19 April 2013

SAYANGI SESAMA MAKA AKAN DISAYANG ALLAH

“Muhammad itu utusan Alloh, dan orang-orang yang bersama dia keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (Qs. Al Fath; 29)

Sahabat sekalian banyak sekali ni’mat yang dianugerahkan Alloh kepada kita, namun hanya sedikit yang kita sadari bahwa itu semua adalah ni’mat, lebih celaka lagi kita melupakannya dan kita baru menyadari bahwa apa yang kita alami, miliki dan rasakan adalah ni’mat ketika semua itu telah berlalu dan bertemu dengan sesuatu yang tidak mengenakkan kita.
Satu dari sekian banyak ni’mat Alloh yang dianugerahkan kepada kita adalah ni’mat kasih sayang (Rohman dan Rohim) dengan berbagai macam bentuk dan perantaranya. Bentuk kasih sayang Alloh itu bisa berupa kesenangan atau kesusahan, kegembiraan maupun kesedihan, yang kesemuanyan tidak lain Alloh karuniakan semata-mata demi kebaikan kita agar kita semakin dekat dengan-Nya. Sedangkan sampainya kasih sayang Alloh kepada kita bisa melalui siapa saja seperti bapak, ibu, kakak, adik, saudara, tetangga, guru dan lain sebagainya, atau melalui apa saja mahluk Alloh yang lain.
Dalam bahasa arab kasih sayang disebut dengan istilah Rohmah, yang sering kali kita menyebutnya Rohmat. Rasa kasih sayang merupakan salah satu kekayaan yang tersimpan dalam hati kita yang amat sangat berharga. Kalau boleh dianalogikan seandainya hati adalah rumah mewah berisi emas, perak,  intan, permata, berlian atau lain sebagainya berupa materi keduniaan, maka sesungguhnya dalam hati terdapat terdapat iman, syukur, ikhlas, tawadhu’, iffah yang termasuk didalamnya Rohmat (kasih sayang).
Orang yang di dalam hatinya terdapat kekayaan berupa kasih sayang, maka ia akan termuliakan dengan kasih sayang nya itu, begitu pula sebaliknya ia akan terhinakan manakala dihatinya tidak terdapat kasih sayang.
Orang yang dalam hatinya dipenuhi kasih sayang dengan yang tidak, maka akan berbeda ketika dia mengasihi atau menyayangi orang lain. Perbedaan itu akan terletak pada ketulusan dalam memberikan kasih sayangya. Orang kaya yang punya uang satu juta semisal, ketika memberi seorang miskin seribu rupiah maka ia tidak berharap balasan yang sama atas pemberian yang diberikannya karena ia masih punya banyak sekali yakni sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu rupiah, artinya ketika kita mengasihi orang lain maka tidak terbersit sedikitpun bahwa orang yang kita kasihi akan membalas dengan kebaikan yang sama, karena dalam hati kita masih sangat banyak sekali kekayaan yang bernama rahmah itu.
Sahabat sekalian, paling tidak ada dua ciri seorang yang dihatinya benar-benar tersimpan kekayaan yang bernama rohmah  (kasih sayang ) itu, ciri tersebut antara lain :
Pertama, Kasih sayangnya tanpa ada pamrih,- Orang yang di hatinya ada kekayaan kasih sayang, maka dia akan mencurahkan kasih sayangnya kepada orang lain dengan sepenuh hati. Ia lakukan bukan lantaran ingin di balas atau ingin disayangi  orang tersebut, akan tetapi semata-mata ingin mendapat balasan dari Alloh. Orang yang miskin kasih sayang, maka ketika mengasihi dan menyayangi orang lain, ia akan mengharapkan balasan yang serupa dari orang lain tersebut. Semisal orang yang dasarnya memang miskin uang, kemudian ia memberi uang kepada orang lain, maka apa yang muncul di hatinya ? meski dia memberi tetap saja di hatinya akan terbersit harapan bahwa suatu saat orang yang diberi akan balik memberinya ketika ia butuh. Sama halnya dengan orang yang menyumbang, ketika  kebetulan dirumahnya ada hajatan, maka dia berharap akan disumbang. Kedua hal tersebut menunjukan bahwa mereka sama-sama miskinnya, karena masih berharap ingin dikasih dan diberi.
Orang yang kaya kasih sayang dia tidak berharap-harap meski sekecil apapun balasan dari kasih sayang yang diberikannya. Tidak pernah kecewa,  menyesal, merasa rugi ataupun timbul kebencian, sekalipun orang yang ia kasihi dan ia sayangi tidak membalasnya, bahkan sekedar berterima kasihpun tidak. Bahkan dia merasa bahagia, bangga bisa mencurahkan kasih sayangnya dengan ikhlas tanpa pamrih kepada orang lain. Balasan yang ia harapkan adalah pahala dan ridho Alloh subhanahu wata’ala.
Kedua, Tahu siapa yang harus didahulukan dalam mencurahkan kasih sayangnya,- Orang yang betul-betul kaya akan kasih sayang, maka dalam memberikan kasih sayangnya akan membuat skala prioritas siapa terlebih dahulu yang harus dikasihinya. Semisal ia punya banyak uang dan hidup dalam lingkungan yang kecil maka ketika ia akan memberikan sebagian uangnya, maka terlebih dahulu pada orang paling sangat membutuhkan. Demikian juga halnya dengan prioritas mencurahkan kasih sayang, yang jadi prioritas tentunya adalah yang sangat membutuhkan itu.  Pertanyaan yang muncul adalah siapa sebetulnya yang perlu jadi prioritas dalam memberikan kasih sayang itu?, tentunya bukanlah mereka yang jompo, bukanlah mereka yang miskin atau yatim piatu. Yang paling sangat membutuhkan kasih sayang adalah orang yang dalam hatinya sedang miskin kasih sayang, yaitu mereka yang dalam hatinya terdapat kebencian terutama kebencian kepada kita. Kemudian sanggupkah kita menyayangi orang yang membenci kita? Jika kita tidak sanggup, berarti kita juga termasuk orang yang miskin kasih sayang. Orang yang miskin kasih sayang tidak akan mampu memberikan kasih sayangnya, maka yang ada hanyalah keinginan untuk saling menjatuhkan, menghina, bahagia bila orang lain sengsara dan selalu berharap bahwa selain dirinya itu menderita. Merekalah yang pertama kali perlu diberi kasih sayang, sehingga dia akan menjadi orang yang kaya kasih sayang.
Begitulah dua ciri orang yang memiliki kekayaan kasih sayang dalam hatinya, dia akan selalu tangguh, selalu menyayangi meski dibenci, tidak pernah putus asa dan kecewa apabila tidak mendapatkan imbalan sesenpun dari orang yang ia kasihi dan sayangi. Dan sesungguhnya kalau kita perhatikan baik-baik, justeru kita sering melakukan hal yang aneh-aneh yang bisa menunjukkan dan lebih memantapkan kalau kita memang awalnya miskin kasih sayang, itu mungkin bisa terjadi karena kita  kurang memahaminya. Semisal, suatu ketika ada orang yang menampakan kebenciannya kepada kita dan menghina kita. Kita mengaku tidak senang dihina, tidak sakit hati, tidak tersinggung tetapi kita berkilah dengan alasan mengapa kita harus menyenangkan dia sementara dia menghina kita, sehingga alasan tersebut malah menyenangkan orang yang menghina kita. Karena orang yang menghina akan merasa berhasil bila yang dihinanya melakukan perlawanan, semisal ia sedih dengan penghinaan tersebut.
Penghinaan dan kebencian itu ibarat dua sisi mata uang, maka jangan sakit hati bila dihina orang, sesungguhnya yang berhak merasa sakit hati adalah orang yang yang menghina, sebab penghinaan itu akan kembali pada dirinya sendiri bila direspon dengan kasih sayang, dan akhirnya penghinaannya akan menjadi boomerang  baginya./ Dengan demikian orang yang dihina itu pantang membalas menghina orang yang menghinanya.
Orang yang memahami betul persoalan ini maka ketika ada yang menghina dirinya maka yang dilihat bukan penghinaannya, justeru sebaliknya yaitu hikmah yang tersimpan dibalik hinaan tersebut. Suatu saat seorang sahabat bertanya kepada Rosululloh: “Ya Rosululloh, tunjukkan aku amalan apa yang bisa memasukkanku ke dalam surga?”, Beliau menjawab: “Maafkanlah orang yang menganiayamu.”. Sahabat sekalian, bentuk penganiayaan adalah menghina, berarti bila kita memaafkan orang menganiaya kita sama artinya dengan memaafkan orang yang menghina kita.
Ada beberapa hikmah yang dapat kita petik apabila kita memaafkan orang yang menghina kita. Antara lain:
Pertama, Kita punya tabungan amal dari memaafkan kesalahan  orang lain  tersebut. Kapan kita akan memaafkan orang lain kalau tidak ada orang yang berbuat salah, tidak ada yang menghina, tidak ada yang mendzalimi kita. Padahal pekerjaan memaafkan merupakan suatu hal  yang ringan sekali, tidak menuntut banyak tenaga, tidak perlu modal besar, tidak harus dengan waktu berhari-hari bahkan tidak perlu cucuran air mata dan simbahan darah. Jika kita katakan dalam beberapa detik saja perkataan maaf, rasanya ringan dan tidak memberatkan, itupun masih berbuntut dengan dicatat sebagai prestasi untuk menuju jalan kesurga Alloh, namun demikian tidak berarti bahwa kita berharap orang lain berbuat salah kepada kita.
Kedua, Hinaan sebetulnya adalah control pemberitahu bobot harga diri kita,- pernahkah kita melihat intan?, sebongkah batu bata bila dijatuhkan pada sebongkah intan yang kebetulan disampingnya ada tape. Apa yang terjadi? Maka hancurlah batu bata tadi, intan akan tetap utuh  tetap berkilau tidak bergeming sedikitpun, tetap memancarkan pesona keindahannya, tetapi tidak demikian halnya dengan tape yang terkena bongkahan batu bata maka ia akan penyet, rusak, remuk bahkan tidak mungkin ada yang mau mengambil karena kotor kena pecahan bata. Begitulah rumusnya, bila hati kita kaya akan kasih sayang meskipun ada orang yang menghina kita, kita tidak bergeming, tidak merasa hancur-hancuran, kita tetap cemerlang dan tidak ada keinginan  untuk membalas, sebagaimana sebongkah intan. Tetapi, sebaliknya apabila ada orang yang menghina kita, lalu kita membalas hinaannya berarti tak ubahnya kita seperti sebungkus tape. Kita tahu berapa harga tape dipasar? Hanya seribu rupiah, itupun masih dapat tiga bungkus lagi. Ingin samakah kita dengan nilai tape? Tentu tidak.
Jadi dengan hinaan ini kita tahu seberapa harga diri kita, artinya kalau ada orang yang menghina kita, sebenarnya dia sedang mengasihi kita, sebenarnya dia sedang memberitahukan  kita yang sebenarnya, cuma mungkin pengungkapannya lain tidak selembut yang kita harapkan.
Ketiga, sikap memaafkan adalah bentuk curahan kasih sayangnya- Tidak semua bias mencurahkan kasih sayangnya dengan lembut, tetapi ada pula dengan cara yang lain seperti penghinaan. Kalau kita faham dengan orang yang menghina kita, maka belum tentu dia melakukan itu benar-benar benci. Bisa jadi merupakan ungkapan kasih sayangnya kepada kita. Sudah seharusnya sikap kita kepada merekapun melimpahkan kasih sayang meski tidak dengan cara yang sama dengannya, yaitu kasih sayang yang sesungguhnya, sebagai rasa terima kasih kita kepada orang yang menyayangi kita.
Inilah beberapa fenomena yang ada, apabila kita betul-betul memahami makna kasih sayang kepada sesama, maka dalam kehidupan ini rasanya sulit untuk membenci orang lain. Seperti halnya ketika kita diajak seseorang untuk berbuat sesuatu yang kita yakini kebenarannya, yakni agar setiap kali hendak melakukan sesuatu kita awali dengan basmalah, maka kita pun akan memulai segala sesuatu dengan basmalah. Karena dalam bacaan tersebut terkandung dua makna yaitu setiap pekerjaan yang diawali dengan basmalah berarti dia telah mengagungkan asma Alloh. Bismilah artinya dengan menyebut asma Alloh, nama Alloh adalah nama yang sarat dengan keagungan. Misal mau makan, berpakaian atau apa saja sebelumnya hendaknya mengucap basmalah. Demikian halnya dengan mengagungkan asma Alloh melalui amal-amal kita sehingga amal tersebut bisa sejalan dengan kehendak Alloh. Tentunya amal tersebut adalah amal-amal yang baik (sesuai dengan keinginan Alloh), karena amal yang tidak baik tidak diawali dengan basmalah. Yang kedua, setiap perbuatan yang kita lakukan harus memiliki makna kasih sayang, – Dalam bismilah itu dilanjutkan dengan Ar Rahman dan Ar Rohiim bukan azizul jabbar atau ataupun Hayyul qoyyum. Dalam hal ini Alloh mengajarkan bahwa kasih sayang itu tiada bertepi, tidak bisa dibatasi oleh siapapun atau apapun. Ketika kita mencurahkan kasih sayang kepada siapapun meski orang kafir sekalipun, kita harus bisa membedakan mana perbuatannya dan mana orangnya. Terhadap orang kafir, maka bukan orangnya yang kita benci akan tetapi perbuatannya, karena besar harapan kita bahwa orangnya akan mendapatkan hidayah dari Alloh dan bisa kembali ke jalan yang lurus.
Sesungguhnya masih banyak sekali yang bisa kita dapatkan dari makna kasih sayang ini, dan akhirnya orang yang kaya akan kasih sayang akan senantiasa membantu orang-orang yang ingkar akan kebenaran Alloh sehingga mereka bisa meninggalkan jalan yang sesat menuju ke jalan yang penuh cahaya Alloh. Bagaimana hal dengan kita? Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang memiliki kasih sayang yang melimpah, sehingga kita bisa dipilih oleh Alloh untuk bisa mengantarkan saudara-saudara kita menuju kepada cahaya Ilahi dan menambah keimanan kita kepada Alloh Subhanahu wata’ala. Wallohu’alam bish showab.